Kamis, 04 Desember 2014

[Download] Software Qira'at Al-Qur'an



Ilmu Qira'at adalah ilmu yang mempelajari tentang cara pengucapan lafal-lafal Al-Qur’an sebagaimana diucapkan Nabi atau sebagaimana di ucapkan para sahabat di hadapan Nabi lalu beliau mentaqrirkannya.
 Qira’at al-Qur’an tersebut adakalanya memiliki satu versi qira’at dan adakalanya memiliki beberapa versi. Berikut adalah aplikasi khusus untuk belajar Qira'at Al-Qur'an. Tafadhdhal....

Sumber : Om Google ^_^

Hadits tentang Kesehatan



Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Usamah bin Syarik radhiallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:


كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ

Aku pernah berada di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab: “Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menshahihkan hadits ini dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih mimma Laisa fish Shahihain, 4/486)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yang bisa mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Al-Bushiri menshahihkan hadits ini dalam Zawa`id-nya. Lihat takhrij Al-Arnauth atas Zadul Ma’ad, 4/12-13)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, demikian pula Allah menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud dari Abud Darda` radhiallahu ‘anhu)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari obat yang buruk (haram).” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Ibnu Majah, 2/255) [Lihat kitab Ahkam Ar-Ruqa wa At-Tama`im karya Dr. Fahd As-Suhaimi, hal. 21)

Sumber : Om Google ^_^


Interaksi Obat


Interaksi obat adalah perubahan aktivitas famakologi suatu obat dengan adanya pemakaian dengan obat lain atau dengan makanan, yang bisa meingkatkan efek, mengurangi efek, atau meningkatkan toksisitas.

Jenis interaksi :

1. Interaksi Farmaseutis, yaitu interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat obat diformulasikan/disiapkan sebelum obat digunakan oleh penderita. Misalnya : interaksi antara obat dan larutan infus IV yang dicampur bersamaan dapat menyebabkan pecahnya emuls atau terjadi pengendapan.

2. Interaksi Farmakokinetik, meliputi :
   a. Interaksi absorpsi, yaitu interaksi yang terjadi di saluran cerna karena :
  1. Interaksi langsung, yaitu terjadi reaksi/pembentukan senyawa kompleks antarsenyawa obat yang mengakibatkan salah satu atau semuanya dari macam obat mengalami penurunan kecepatan absorpsi. Contoh : Interaksi tetrasiklin dengan ion Ca2+, Mg2+, Al2+ dalam antasid yang menyebabkan jumlah absorpsi keduanya menurun.
  2. Perubahan pH, yaitu saluran cerna yang alkalis, misalnya akibat adanya antasid, akan meningkatkan kelarutan obat yang bersifat asam yang sukar larut dalam saluran cerna, misalnya aspirin.
  3. Perubahan waktu pengosongan lambung dan transit usus, yaitu semakin cepat obat sampai di usus (cepat pengosongan ambung) semakin cepat pula obat diabsorbsi, kadar dalam darah cepat. Demikian sebaliknya.

   b.  Interaksi distribusi, yaitu di dalam darah senyawa obat berinteraksi dengan protein plasma. Senyawa yang asam akan berikatan dengan albumin dan yang basa akan berikatan dengan αglikoprotein. Jika 2 obat atau lebih diberikan maka dalam darah akan bersaing untuk berikatan dengan protein plasma, sehingga proses distribusi terganggu (terjadi pengikatan salah satu distribusi obat ke jaringan).

   c.  Interaksi metabolisme, meliputi :
  1. Hambatan metabolisme, yaitu pemberian suau obat bersamaan dengan obat lain yang enzim     pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat menaikkan kadar       salah satu obat dalam plasma, sehingga meningkakan efeknya atau toksisitasnya. Contohnya : pemberian S-warfarin bersamaan dengan fenilbutazon dapat menyebabkan meningkatnya kadar S-warfarin dan terjadi pendarahan.
  2. Induktor enzim, yaitu pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim                   pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat menurunkan kadar obatdalam plasma, sehingga menurunkan efeknya atau toksisitasnya. Contohnya : pemberian estradiol   dengan rifampisin akan menyebabkan kadar estradiol menurun dan efektivitas kontrasepsi oral estradiol menurun.
   d. Interaksi ekskresi, meliputi :
  1. Gangguan ekskresi ginjal akibat kerusakan ginjal oleh obat, yaitu jika suatu obat yang ekskresinya melalui ginjal diberikan bersamaan obat-obat yang dapat merusak ginjal, maka akan terjadi akumulasi obat yang dapat menimbulkan efek toksik. Contohnya : digoksin diberikan bersamaan dngan obat yang dapat merusak ginjal (aminoglikosida, siklosporin) mengakibatkan kadar digoksin naik sehingga timbul efek toksik.
  2. Kompetisi untuk sekresi aktif di tubulus ginjal, yaitu jika di tubulus ginjal terjadi kompetisi antara obat dan metabolit obat untuk sistem transpor aktif yang sama dapat menyebabkan hambatan sekresi. Contohnya : jika penisilin diberikan bersama probenesid maka akan menyebabkan klirens penisilin turun, sehingga kerja penisilin lebih panjang.
  3. Perubahan pH urin, yaitu bila terjadi perubahan pH urin maka akan menyebabkan perubahan klirens ginjal. Jika harga pH urin naik akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat asam lemah, sedangkan jika harga pH turun akan meningkatkan eliminasi obat-obat yang bersifat basa lemah. Contohnya : pemberian pseudoefedrin (obat basa lemah) diberikan bersamaan ammonium klorida maka akan meningkatkan ekskresi pseudoefedrin. Ammonium klorida akan mengasamkan urin sehingga terjadi peningkatan ionisasi pseudoefedrin dan eliminasi dari pseudoefedrin juga meningkat.
3. Interaksi Farmakodinamik, yaitu interaksi antar obat (yang diberikan bersamaan) yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga menimbulkan efek sinergis atau antagonis. Interaksi farmakodinaik meliputi :
  1. Aditif (efek obat A = 1 ; efek obat B = 1; efek kombinasi keduanya = 2)
  2. Potensiasi (efek obat A = 0 ; efek obat B = 1 ; efek kombinasi keduanya = 2)
  3. Sinergisme (efek obat A = 1 ; efek obat B = 1 ; efek kombinasi keduanya = 3)
  4. Antagonisme (efek obat A= 1 ; efek obat B = 1 ; efek kombinasi keduanya = 0)
Semoga bermanfaat ^_^

Kisah Mengherankan dan Aneh



Al-Ashbahani dan selainnya meriwayatkan dari al-'Awwam bin Hausyab, ia mengatakan: Suatu hari aku singgah di sebuah perkampungan, dan di samping perkampungan itu terdapat sebuah perkuburan. Saat setelah ashar, satu kubur darinya terbelah lalu keluarlah seorang laki-laki yang kepalanya kepala keledai dan tubuhnya tubuh manusia, lalu ia meringkik tiga kali ringkikan, kemudian kubur itu menutupnya kembali. Tiba-tiba ada seorang wanita tua yang memintal bulu atau wol, maka seorang wanita mengatakan, "Apakah engkau melihat wanita tua itu?" Aku balik bertanya, "Ada apa dengannya?" Ia mengatakan, "Ia adalah ibu laki-laki tersebut. "Aku bertanya, "Bagaimana kisahnya?" Ia mengatakan, "Orang itu suka minum khamer. Jika ia datang, ibunya mengatakan kepadanya, "Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, hingga kapan engkau minum khamer ini?" Ia mengatakan kepada ibunya, "Engkau hanyalah meringkik seperti ringkikan keledai." Ia pun mati sesudah Ashar. Ia keluar dari kuburnya sesudah Ashar setiap hari, lalu meringkik sebanyak tiga kali, lalu kubur menutupnya kembali.

Al-Ashbahani mengatakan, "Kisah ini dituturkan leh Abu al-Abbas al-Ashamm dengan mendikte di Naisabur di hadapan para hafiz, dan mereka tidak mengingkarinya.... 

Kisah ini dikutip dari buku "Balasan Sesuai Perbuatan ~43 Kisah Nyata Akibat Durhaka Kepada Orang Tua~" yang ditulis oleh Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi

Tafsir dan Ta'wil



       Al-Qur'an adalah sumber hukum utama bagi umat Muhammad SAW yang diturunkan dalam bahasa Arab dan bersifat universal hingga akhir zaman. Di dalamnya terdapat aturan dan panduan bagi manusia untuk mengarungi kehidupan.

        Karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab, tentu tidak semua manusia dapat memahami secara langsung apa yang terkandung di dalamnya. Agar dapat memahami Al-Qur'an secara komprehensif, diperlukan suatu cara khusus untuk menggali makna dan hukum agar isi Al-Qur'an dapat tersampaikan secara benar, tanpa mengubah substansinya. Tedapat dua metode yang dilakukan secara bulat oleh para ahli Ilmu Al-Qur'an, yakni tafsir dan ta'wil.

Defenisi Tafsir dan Ta'wil

       Secara bahasa, tafsir berarti menjelaskan, membuka, dan mengungkap suatu makna agar dapat diterima oleh akal. Sementara menurut istilah, tafsir adalah suatu cabang ilmu yang membahas tata cara memakai lafaz-lafaz Al-Qur'an untuk diambil hukumnya, baik untuk perorangan maupun masyarakat.

       Tidak semua ayat dalam Al-Qur'an dapat dipahami secara langsung (tekstual), melainkan ada aya-ayat yang memerlukan penjelasan (kontekstual). Ayat-ayat yang memerlukan penjelasan ini biasanya tersusun dalam berbagai majas dan metafora. Untuk mengetahui makna yang terkandung dalam suatu ayat diperlukan cara-cara khusus, misalnya dengan menurut asba>bun nuzu>l (sebab-sebab diturunkannya ayat), dengan melihat na>sikh-mansu>kh, atau dengan hadis Rasulullah SAW.

       Menurut az-Zarkasyi, tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an, menjelaskan makna-maknanya, dan mengeluarkan hukum darinya.

       Adapun ta'wil secara bahasa adalah sesuatu yang diambil dari awal (yang dikembalikan pada asalnya). Sementara menurut ulama muta’akhiri>n, ta'wil adalah menempatkan suatu lafaz dari makna yang lebih unggul atas makna di bawahnya. Akan tetapi, pengertian ta'wil seperti ini tidak disepakati oleh para ulama salaf karena tidak sesuai dengan pengertian ta'wil yang sudah dijelaskan Al-Qur'an.

Para ulama menjelaskan makna ta'wil dalam tiga pengertian :
  1. Menggunakan lafaz yang memiliki tingkatan lebih tinggi terhadap lafaz yang memiliki tingkatan lebih rendah untuk mengeluarkan sebuah dalil yang memiliki kemiripan. Ini adalah pendapat yang paling banyak dipakai oleh para ulama muta’akhiri>n.
  2. Ta'wil bermakna menafsirkan sebuah ayat agar mudah dipahami oleh kalangan awam.
  3. Ta'wil adalah hakikat dari ayat yang dita'wilkan.
Sumber : Ilmu Al-Qur'an untuk Pemula oleh Fahmi Amrullah (Hal. 73-76)

Kedurhakaan Seorang Dermawan Terkenal



       Ada seorang saudagar yang terbiasa menyembelih sapi besar di dua waqfah (momentum) sebelum Idul Fitri dan Idul Adha, dan mengundang orang-orang fakir yang sudah biasa mendapatkan bagian di dua musim itu. Ia membuat pemandangan yang menakjubkan, akrena ia mengumpulkan para pembantunya agar orang-orang yang membutuhkan itu berdiri dalam barisan panjang di bawah pengawasannya, di mana mereka memanggil nama-nama, dan memberikan bungkusan penuh dengan daging dan tulang sambil mengucapkan kata-kata syukur dan pujian. Sahabat kita ini adalah orang asing yang datang dari desa ke kota di mana perdagangannya tersebar di sana. Tidak ada seorang pun yang tahu sedikit pun tentang keluarga dan kampung asalnya. Ia terbantu oleh keberuntungan, kemudian menjadi saudagar yang memiliki kedudukan dan menjadi menantu keluarga yang kaya raya.

          Pada suatu hari, dari hari-hari waqfah, seseorang datang kepadanya, lalu mengucapkan salam kepadanya. Kedatangannya tidak terduga, karena ia berasal dari kampungnya, dan di sana terdapat ibu dan saudara-saudaranya. Pengunjung itu tercengang dengan fenomena kedermawanan yang berlebih ini, dan ia tidak kuasa menembunyikan rahasia yang terpendam dalam hatinya. Ia melongok dari tempat yang tidak jauh, dan memanggil saudagar yang dermawan ini. Ia membisikkan kepadanya, "Aku akan pulang hari ini ke kampung dan aku usul supaya engkau memberikan sebagian dari daging ini, agar aku bawa kepada ibumu dan saudara-saudaramu." Wajah saudagar itu pun merah padam, dan mengatakan dengan penuh kemarahan, "Bagaimana engkau mengatakan ini? Sedangkan aku mengirimkan kepada mereka apa yang membuat mereka dalam kebahagiaan hidup." Pengunjung itu menimpali, "Sseungguhnya ibumu terpaksa menjadi pembantu di rumah Fulan, karena ia tidak memiliki apa-apa, dan seringkali ia minta padaku.

          Saudagar itu membawanya berjalan jauh, dan mengatakan kepadanya, "Jangan mengemukakan rahasiaku di muka umum. Mertuaku dan ipar-iparku tidak mengetahui bahwa aku punya ibu dan saudara. Seandainya mereka mengetahui sesuatu tentang keluargaku yang fakir, niscaya aku tidak akan menikah dengan wanita dari keluarga Fulan. Sungguh aku telah memutus hubunganku dengan kampung seluruhnya agar rahasiaku tidak terbongkar, dan aku berharap engkau merahasiakannya. Aju adalah pemilik usaha dan memiliki nama. Karena itu, jangan mengingatkan aku kepada hari-hari yang hina." Pengunjung itu pun pulang dengan penuh kesedihan, dan menceritakan apa yang telah didengarnya. (Thara'if wa Musamarat, hal.189)

Kisah ini dikutip dari buku "Balasan Sesuai Perbuatan ~43 Kisah Nyata Akibat Durhaka Kepada Orang Tua~" yang ditulis oleh Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi

Ilmu Tajwid



Secara bahasa, kata tajwid adalah mas}dar dari kata jawwada - yujawwidu yang berarti "membuat bagus." Adapun menurut istilah, tajwid adalah suatu cabang ilmu yang mengatur tata cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Ilmu tajwid sangat perlu diajarkan kepada orang yang ingin membaca atau mempelajari Al-Qur'an. Sebab, kesalahan satu huruf atau panjang-pendek dalam membaca Al-Qur'an dapat berakibat fatal, yakni perubahan arti.

Dalam ilmu tajwid diajarkan bagaimana cara mengucapkan huruf yang berdiri sendiri, yang dirangkai dengan huruf lain, melatih lidah mengucapkan huruf sesuai dengan makhraj-nya, mengetahui panjang-pendek suatu abacaan dan sebagainya.

Hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Artinya, jika di suatu tempat sudah ada orang yang mengerti ilmu tajwid, maka gugurlah kewajiban orang di tempat itu untuk mempelajari ilmu tajwid. Namun, dalam prakteknya, mengamalkan ilmu tajwid hukumnya fardhu ain.

Bagi teman-teman yang ingin memperdalam ilmu tajwid, Rin sediakan link download gratis software belajar Tajwid. Douzo... ^_^


Sumber : Ilmu Al_Qur'an untuk Pemula oleh Fahmi Amrullah (Hal.71-72)

Miliyuner dan Kedurhakaan Anak-anak




Ada seorang ayah memiliki satu anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Mengingat karena ia termasuk orang yang kaya raya, maka mereka mengeruk hartanya sedangkan ia lumpuh tidak bisa bergerak. Ketika mereka memintanya agar menandatangani sebagian dokumen, ia menolaknya, lalu mereka menuduhnya sedang mengigau dan melakukan gerakan nyeleneh . Mereka menuduh bahwa keberadaannya di rumah membahayakan mereka dan anak-anak mereka. Maka anak laki-laki satu-satunya yang biasa tinggal bersamanya membawanya ke salah satu pusat sosial. Ia tetap di sini dan air matanya mengalir siang malam tanpa henti. Sementara anaknya menganggapnya sebagai kesempatan emas agar bisa berbuat semaunya terhadap harta milik ayahnya yang diperkirakan milyuran. Ketika pusat sosial menghubunginya agar membawakan pakaian baru untuk ayahnya, ia menjawab dengan sangat tidak ramah. "Aku tidak punya riyal untuk aku berikan padanya. Jangan coba menghubungiku sekali lagi. Jangan pula berkirim surat kepadaku mengenai perihalnya."(Koran al - 'Ukkazh, tanggal 20/2/1412 H)

Naudzubillah min dzaalik! Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa berbakti kepada kedua oang tua kita.

Kisah ini dikutip dari buku "Balasan Sesuai Perbuatan ~43 Kisah Nyata Akibat Durhaka Kepada Orang Tua~" yang ditulis oleh Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi

Hukum Mempelajari Al-Qur'an


Membaca Al-Qur'an bagi seorang muslim dinilai sebagai ibadah. Oleh karenanya, mempelajari Al-Qur'an pun hukumnya ibadah. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa mempelajari Al-Qur'an adalah wajib. Sebab, Al-Qur'an adalah pedoman paling pokok bagi setiap muslim.

Dengan mempelajari Al-Qur'an, terbuktilah bahwa umat Islam bertanggung jawab terhadap kitab sucinya. Rasulullah SAW telah menganjurkan kita untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an kepada orang lain.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 
Artinya :
Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an kemudian mengajarkannya kepada yang lain.

Mempelajari Al-Qur'an merupakan keharusan bagi umat Islam. Dalam proses belajar, tentunya ada tingkat-tingkatan, mulai dari yang paling dasar, yakni mengeja huruf demi huruf sampai lancar membacanya. Setelah itu, kita mempelajari arti dan maksudnya untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahap dasar, yang paling tepat adalah belajar membaca Al-Qur'an sejak usia dini. Sebab, pada usia-usia yang masih belia daya ingat seorang anak masih kuat. Selain itu, karakter anak masih lunak untuk dibentuk dan faktor orang tua atau guru cukup dominan untuk membentuk karakter mereka.

Jika sudah mampu melafalkan bacaan Al-Qur'an dengan lancar dan fasih, barulah mereka diajarkan maksud dan arti yang terkandung dalam Al-Qur'an serta menghimbau mereka untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cara menyampaikan maksud dan arti Al-Qur'an kepada mereka dapat ditempuh dengan berbagai cara, misalnya dengan menyampaikan  kisah-kisah dalam Al-Qur'an atau mengaitkan suatu kejadian dengan Al-Qur'an.

Sumber : Ilmu Al-Qur'an untuk Pemula oleh Fahmi Amrullah (Hal.69-71)
               mutiaraalhikmah.wordpress.com

Selasa, 02 Desember 2014

Apakah Al-Qur'an itu?



Secara etimologis, Al-Qur'an berarti bacaan atau yang dibaca. Kata "Al-Qur'an" merupakan bentuk mas}dar dari kata kerja qara'a. Adapun menurut istilah para ulama, Al-Qur'an adalah kala>mulla>h yang diturunkan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW., disampaikan secara mutawatir, bernilai ibadah bagi umat muslim yang membacanya, dan ditulis dalam mushaf.

Al-Qur'an diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril. Wahyu pertama yang diterima oleh beliau adalah Surah al-'Alaq [96] : 1 - 5


 Artinya :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Al-Qur'an adalah sumber hukum sekaligus bacaan yang diturunkan secara mutawatir . Artinyam ke-mutawatir-an Al-Qur'an terjaga dari generasi ke generasi. Di masa Rasulullah SAW., para sahabat menerima Al-Qur'an secara langsung dari beliau. Selanjutnya, mereka sangat antusias menghafal, memahami, dan menyampaikan Al-Qur'an kepada sahabat yang lain atau kepada generasi selanjutnya, persis seperti yang mereka terima dari Rasulullah SAW tanpa berkurang satu huruf pun.

Ke-mutawatir-an Al-Qur'an juga menjadikannya sebagai dalil yang qat}’i (pasti). Menurut jumhur ulama, segala berita yang disampaikan secara mutawatir tidak mungkin diragukan lagi keabsahannya.

Al-Qur'an terbagi dalam 30 juz, 114 surah, dan kurang lebih 6666 ayat. Berdasarkan panjang pendeknya surh dalam Al-Qur'an, para ulama membuat kategori sebagai berikut:

1. At}-T}iwa>l
          At}-T}iwa>l yaitu surah dalam Al-Qur'an yang ayatnya cukup banyak. Ada tujuh surah yang masuk dalam kategori ini, antara lain al-Ba>qarahA>li ‘Imra>n, an-Nisa>’al-Ma>’idahal-An’a>m, dan al-A’ra>f.

2. Al-Mi'un
         Al-Mi'un yaitu surah dalam Al-Qur'an yang ayatnya berjumlah sekitar seratus atau lebih sedikit. Surah-surah yang masuk dalam kategori ini, antara lain Hu>dYu>suf, dan Mu'min.

3. Al-Mas|a>ni
        Al-Mas|a>ni yaitu surah dalam Al-Qur'an yang jumlah ayatnya kurang dari seratus. Surah-surah yang masuk dalam kategori ini antara lain Al-Anfa>l, dan Al-H}ijr.

4. Al-Mufas}s}al
       Al-Mufas}s}al yaitu surah dalam Al-Qur'an yang jumlah ayatnya cukup pendek. Surah-surah yang masuk dalam kategori ini antara lain ad-D}uh}a>, al-Fa>tih}ah, al-Ikhla>s}, an-Na>s, al-Falaq.

Sumber : Ilmu Al-Qur'an untuk pemula oleh Fahmi Amrullah